Gak bisa dipungkiri, produk-produk mentereng buatan luar negeri yang dipajang di etalase, membuat nyengir & menggoda komitmen cinta Indonesia. Apa mau dikata, wong produk dari luar itu secara nyata terbukti lebih awet. Mungkin sedikit lebih mahal, tapi kualitas & kenyamanannya lebih terasa. Inikah godaan terhadap perjuangan mempertahankan rasa Cinta Indonesia?
Gak bisa dikesampingkan juga, kalo perhatian utama sebagian besar WNI yang mengaku cinta Indonesia, adalah budaya barat. Dari mulai diseduh, dihirup aromanya, hingga terpancing untuk mencicipi. Sedikit demi sedikit tercekoki, dan perlahan memudarkan eksistensi cinta Indonesia yang terpupuk sejak di bangku sekolah.
Gak bisa dinafikkan, jika sebagian besar masyarakat yang mengagung-agungkan idealisme cinta Indonesia, seringkali terjebak untuk bermain mata dengan lezatnya bumbu junk food yang menebarkan aroma memacokkan. Lagi-lagi rasa cinta Indonesia tergadaikan karena laparnya perut.
Gak bisa dihindari juga sebenarnya,ketika pamor cinta Indonesia makin dirusak dengan ulah koruptor yang menggerogoti uang rakyat, ataupun politisi yang selalu mengembar-gemborkan nasionalisme di setiap kampanye di depan ribuan massa setianya justru terjebak untuk menjual aset bangsa, yang artinya telah menjual harga diri & kemurnian cinta Indonesia.
Sejauh-jauh mata ini memandang, sedalam-dalam kaki ini berpijak, selalu dipertanyakan apakah gegap gempita Cinta Indonesia masih mengumandang dalam teriakmu?? Apakah Cinta Indonesia masih bersemayam dalam deranya pacu nadimu?
No comments:
Post a Comment